Chairil Anwar

Kita kini hidup dalam peradaban yang mencoba mengatasi waktu. Waktu tidak lagi cukup misterius, sebab ia telah dicacah-cacah, juga dinominalkan. Time is money. Hidup di jantung peradaban macam itu tak memberi kita peluang untuk bisa memperlakukan waktu sekenanya.
Apakah dengan demikian urusan manusia dengan waktu sudah kelar? Sama sekali tidak. Karena, saat kita merasa sudah mengatasi waktu, justru terjadi arus-balik yang tak mudah: gantian waktu yang kini mengejar-ngejar kita atau waktu yang justru minta terus kita kejar-kejar sampai kita sendiri terobsesi pada pengejaran ini.
Baik waktu yang mengejar kita atau kita yang mengejar-ngejar waktu tak ada bedanya. Keduanya sama-sama membawa manusia pada situasi tunggang-langgang. Bukankah dikejar atau mengejar kita tetap saja berlari? Maka hari ini kita bukan hanya akrab dengan kata-kata time is money, tapi intim juga dengan frase “gak punya waktu” atau “deadline“.
Ya, inilah zaman di mana hidup tak lebih dari sehimpun deadline yang siap mengerkah jika tak ditaati. Sialnya, jika satu deadline telah kelar dilewati, akan ada rentetan deadline lain yang sudah menganga di hadapan. Kita seperti sisifus yang terus menerus memanggul batu, dari waktu ke waktu. Begitu dan terus begitu.
Ada sajak Chairil Anwar yang tajam sekali menggambarkan konstatasi ini. Ijinkan saya memampangkannya di sini.
Waktu jalan. Aku tidak tahu apa nasib waktu?
Pemuda-pemuda yang lincah yang tua-tua keras, bermata tajam,
Mimpinya kemerdekaan bintang-bintangnya kepastian
ada di sisiku selama menjaga daerah yang mati ini
Aku suka pada mereka yang berani hidup
Aku suka pada mereka yang masuk menemu malam
Malam yang berwangi mimpi, terlucut debu …
Waktu jalan. Aku tidak tahu apa nasib waktu!
Itu sajak tentang [atau dipersembahkan kepada] manusia-manusia yang penuh dengan etos hidup, yang punya mimpi dan hasrat, dengan demikian punya rencana dan agenda, yang diasuh oleh bintang-bintang [juga matahari dan bulan] yang mewartakan kepastian [waktu].
Di situ disebutkan bagaimana Chairil mengagumi orang-orang yang berani hidup, yang sanggup menghadapi malam, baik malam penuh mimpi yang wangi maupun kenyataan yang penuh debu. Hadapi semuanya, kata Chairil, “berani[lah] hidup”. Jalani semua dengan sebaik-baiknya, kendati saat menjalani itu kita tidak akan pernah tahu seperti apa “nasib waktu”.
Di situ ada hasrat dan mimpi akan kepastian, tapi itu semua tak mengurangi kesadaran akan misterium waktu. Orang boleh punya mimpi, orang boleh punya resolusi, orang boleh punya agenda, orang boleh punya hasrat akan sejumlah kepastian; tapi begitu semuanya dijalankan, “waktu jalan”, kata Chairil, kita toh tak akan pernah tahu macam apa “nasib waktu”, hari esok, masa depan, segala hal-ihwal yang menjelang.
Sampai akhirnya kita sampai pada perbatasan waktu, deadline dalam pengertiannya yang paling harafiah (garis kematian). Di situ, barangkali, manusia akhirnya mengerti bahwa kita tak pernah dan tak akan pernah bisa mengatasi waktu.
“Lalu waktu bukan giliranku, matahari bukan kawanku,” kata Amir Hamzah dalam sajak “Pada-Mu Jua”.
ShareInfo
ATTAQWA BERDUKA
إنا لله وإنا إليه راجعون
Telah berpulang kerahmatullah
Ibu Ustzh. Hj. Faridah (Anak Tertua Almaghfurlah KH. Noer Alie)
Senin, 2 Mei 2011, Pkl. 17.40
Atas nama Panitia Halal Bihalal & Silatnas IKAA 2011 kami mengucapkan;
“Turut berduka cita yang sedalam-dalamnya, semoga Allah SWT menerima seluruh amal ibadah beliau dan keluarga yang di tinggalkan diberi kekuatan dan ketabahan.”
Newsflash
Hari Menuju Silatnas IKAA 47
Pengikut
Arsip
-
▼
2011
(17)
-
▼
Januari
(10)
- Bocah SMP Garap Antivirus
- Latihannya abang ane nih..
- Untuk hari esok yang lebih baik; Blokir Situs Porn...
- Malu (Aku) Jadi Orang Indonesia
- Temukan Kami di Facebook & Twitter
- Resensi Buku: Hiruk Pikuk Bersepeda Motor
- Chairil Anwar
- Praktek Korupsi: Prevensi dan Eksekusi
- Alasan PSSI menolak LPI, Cekidout bang..
- Fiat say; "Yamaha bye.. bye.."
-
▼
Januari
(10)
0 komentar:
Posting Komentar