Selasa, 29 Maret 2011


Maraknya penggunaan ponsel saat berkendara sudah sangat mengkhawatirkan? Di Jakarta dan sekitarnya, kecelakaan lalu lintas jalan yang disebabkan penggunaan telepon seluler (ponsel) alias handphone, melejit sekitar 1.288%. Secara kuantitas, jumlah kasus kecelakaan yang disebabkan penggunaan handphone pada 2009 sebanyak 9 kasus, sedangkan tahun 2010 sebanyak 125 kasus.

Tak aneh jika kemudian kita melihat di dalam Undang Undang (UU) No 22/2009 tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan (LLAJ) mencuat larangan pemakaian ponsel. Alasannya, pemakaian ponsel dapat mengganggu konsentrasi saat berkendara. Konsentrasi yang terbelah tentu saja berpotensi mengurangi reaksi seseorang terhadap lingkungan. Misal, ada pengendara yang memotong lajur atau ada kendaraan yang berhenti secara tiba-tiba.

Dalam UU tersebut juga ditegaskan soal sanksi berponsel ketika berkendara. Untuk sanksi denda maksimal, setiap pelanggar aturan terancam denda Rp 750 ribu. Sedangkan sanksi pidana, terancam sanksi maksimal kurungan badan tiga bulan.





dari sinih ama nyeng inih.
Share
Kamis, 24 Maret 2011

Memang frasa go blog tidak salah. Maksudnya pun tentu positif dalam mengajak para guru untuk memanfaatkan blog sebagai salah satu media pembelajaran. Namun, akan lebih baik menghindari kontroversi. Penggiat pendidikan mana pun pasti tak mau jika dipelesetkan menjadi goblok. Guru Ngeblog mungkin lebih pas. Bagaimana menurut Anda?

>> dari sini nih <<

Share
Senin, 14 Maret 2011

"Dan kunci-kunci semua yang gaib ada padaNya; tidak ada yang mengetahui selain Dia. Dia mengetahui apa yang ada di darat dan di laut. Tidak ada sehelai daun pun yang gugur yang tidak diketahuiNya. Tidak ada sebutir biji pun dalam kegelapan bumi dan tidak pula sesuatu yang basah atau yang kering, yang tidak tertulis dalam kitab yang nyata (Lauh Mahfuzh)." (QS. Al-An’am: 59)


Satu satu daun berguguran
Jatuh ke bumi dimakan usia
Tak terdengar tangis tak terdengar tawa
Redalah reda

Satu satu tunas muda bersemi
Mengisi hidup gantikan yang tua
Tak terdengar tangis tak terdengar tawa
Redalah reda

Waktu terus bergulir
Semuanya mesti terjadi
Daun daun berguguran
Tunas tunas muda bersemi

Satu satu daun jatuh ke bumi
Satu satu tunas muda bersemi
Tak guna menangis tak guna tertawa
Redalah reda

Waktu terus bergulir
Kita akan pergi dan ditinggal pergi
Redalah tangis redalah tawa
Tunas tunas muda bersemi

Waktu terus bergulir
Semuanya mesti terjadi
Daun daun berguguran
Tunas tunas muda bersemi

(Satu Satu, Iwan Fals)


Selagi kita mau berendah hati untuk membuka pikiran, maka akan mengalir ke dalamnya inspirasi. Sehelai daun yang gugur, membawa pesan mendalam tentang pasang surut siklus kehidupan serta kearifan dalam menyikapinya. Roda hidup memutar kenyataan; ada yang mati beriring dengan ada yang lahir. Ada yang kehilangan, entah jiwa, harta, kedudukan, maupun orang-orang terkasih seiring dengan mereka yang mendapatkannya.

Beragam pula kemampuan kita menyikapinya. Ada yang sangat-sangat merasa kehilangan hingga stress dan depresi, bahkan menganggap kehidupannya telah ’kiamat’. Dia kehilangan kendali diri, hingga lupa bahwa sebenarnya kesempatan selalu ada. Hal ini akan dialami oleh jiwa yang tidak mempersiapkan diri. Persiapan diri berupa kesadaran penuh bahwa datang dan pergi adalah kenyataan tak terhindarkan yang akan menimpa siapapun, kapanpun dan di manapun.

Daun memberikan cermin kepada kita, setiap kali tunasnya bersemi, maka dia menjanjikan harapan akan kehidupan. Dia menjalankan perannya sebagai dapur kehidupan tumbuhan yang menjadi sumber kehidupan makhluk hidup lainnya. Tumbuhan menempati urutan pertama sebagai penjamin rantai makanan. Tumbuhan yang hidup menjadi penghasil utama oksigen, gas yang menjadi penentu hidup manusia dan hewan di muka bumi. Tumbuhan menjadi penyimpan utama cadangan air tawar di permukaan bumi yang menjadi sumber utama segala yang hidup di atasnya.

Setelah melewati rentang waktunya, daun akan menguning, mengering, kemudian gugur. Gugur dalam diam yang sunyi, tanpa tangis, sesal, apalagi protes. Juga tanpa penghormatan, bahkan tanpa pengakuan apapun setelah menjalankan peran kehidupan yang begitu besar. Diterimanya gugur sebagai kemestian mata rantai kehidupan yang akan terjadi cepat atau lambat. Dia tidak merasa hina atau kalah setelah dirinya hanya menjadi sampah-sampah kering yang kemudian membusuk.

Kehormatan baginya adalah menjalani peran secara konsisten. Karena itu, saat sampah-sampahnya membusuk dia menjadi humus. Dia menyediakan diri untuk tetap berfungsi sebagai sumber organik bagi pertumbuhan berikutnya, bagi berseminya tunas-tunas baru yang ditinggalkannya.

Sementara sang tunas yang baru bersemi juga tidak merasa menang atau menggusur. Gugur dan bersemi hanyalah masalah pengalihan fungsi yang mengikuti putaran hukum waktu. Karenanya tiada tangis maupun tawa. Tidak ada yang merasa berharga maupun merasa dihinakan. Tidak ada perasaan menang maupun merasa dikalahkan.

Kita mengalami itu. Ada saatnya kita menempati posisi puncak. Tapi suatu saat akan turun juga. Ada saatnya kita muda dan merasa begitu kuat. Tapi akan tiba saatnya kelak, kita menjadi renta dan rapuh. Ada saatnya kita sehat. Dan akan tiba masanya kita sakit dan lemah. Ada saatnya kita berpuas diri mereguk nikmatnya menghirup kehidupan, tapi tidak lama kematian akan menjenput juga. Bahkan dunia kitapun tak selamanya ada, dia akan lenyap juga suatu ketika.

Bedanya, kita tidak selalu dalam kesadaran penuh menerima kenyataan itu. Kita seringkali hanya menyiapkan diri untuk menerima kemenangan dan tidak menyiapkan diri menerima kekalahan. Kita hanya mau mendapatkan dan tidak mau kehilangan. Kita hanya siap hidup dan tidak siap mati.

Jika kita menerima semua sebagai kepastian dengan kesadaran penuh, maka tidak ada yang kita khawatirkan. Saat itu kedamaian benar-benar ada. Karena kedamaian akan menemani kita saat kita memiliki kesanggupan menjalani pasang surut, mendapatkan dan kehilangan, menerima hidup juga menerima mati sebagai hal yang pasti.

Lalu di manakah letak keberhargaan diri kita? Memainkan tugas hidup dengan benar. Tidak akan ada kekhawatiran pada kita selagi kita telah menunaikan peran hidup kita dengan penuh penerimaan. Seperti daun-daun itu.

sumbernya disini

Share

Info

ATTAQWA BERDUKA

إنا لله وإنا إليه راجعون

Telah berpulang kerahmatullah
Ibu Ustzh. Hj. Faridah (Anak Tertua Almaghfurlah KH. Noer Alie)
Senin, 2 Mei 2011, Pkl. 17.40
Atas nama Panitia Halal Bihalal & Silatnas IKAA 2011 kami mengucapkan;
“Turut berduka cita yang sedalam-dalamnya, semoga Allah SWT menerima seluruh amal ibadah beliau dan keluarga yang di tinggalkan diberi kekuatan dan ketabahan.”

Newsflash

blog kami terbuka untuk umum - follow kami dan kirim postingan anda ke email kami : silatnasikaa11@gmail.com

Hari Menuju Silatnas IKAA 47

Pengikut

Shoutmix


ShoutMix chat widget

Pengunjung

wibiya widget

Diberdayakan oleh Blogger.